Mengarungi Alur Muara Para Korban PHK

Tak tampak lalu lalang bunyi knalpot kendaraan bermotor bersuara tangis dan penderitaan, tak terdengar orasi ulung para pembela kebenaran yang sering dinilai tak benar. Hari ini terasa hening ketika masa pandemi memupuk angan sebuah alarm perjuangan para buruh untuk menyuarakan haknya. Baru saja kemarin hari menjadi sebuah perayaan yang ternyata juga terpaksa diam, tidak lagi bersuara, dan agenda para buruh pun hanya di rumah menunggu surat keputusan umpatan “di-rumahkan” oleh petinggi-petinggi tempat pejuang-pejuang sesuap nasi ini bekerja.

Suatu hal yang menjadi kenyataan yang memang mutlak untuk dibenarkan bahwa “Dulu budak tidak diberi uang, namun diberi makan. Sekarang, Buruh hanya diberi uang yang hanya cukup untuk makan. Apa beda nya ?”

Demi kehormatan diriku, almamaterku, bangsaku, dan harkat martabatku, tulisan ini saya khususkan untuk para buruh, Selamat Hari Buruh, Kawan! Untuk Para Driver Ojek Online maupun Konvensional, Pemilik UMKM, dan Pekerja-Pekerja harian yang hormatku takkan pernah terlepaskan.

1 Mei 2020, tanpa aksi demonstrasi seperti layaknya Peringatan Hari Buruh Internasional seperti tahun-tahun sebelumnya, Hari Buruh Internasional 2020 diperingati dengan keprihatinan terhadap pandemi COVID-19. Seluruh dunia pun merespon dengan menutup segala aktivitas yang melibatkan orang banyak, hal ini demi memutus sebuah mata rantai virus yang merebak di China pada awal tahun lalu hingga berakhir saat Indonesia baru saja merasakan nya sejak diumumkan kasus pertama nya pada 2 Maret yang lalu. Hal ini menjadikan segala kegiatan yang telah direncanakan oleh setiap individu maupun kelompok, terlebih sebuah negara yang telah melegislasi dan akan mencanangkan program untuk kepentingan publik pupus. Segala mobilitas yang memberikan kesempatan banyak orang untuk berkumpul untuk bekerja, menaiki kendaraan umum, perjalanan ke luar kota, bahkan kegiatan belajar-mengajar di tingkat sekolah hingga universitas sekalipun ditutup, yang sayangnya juga belum dikeluarkan ketetapan secara resmi batas berakhirnya segala pembatasan yang ada, sehingga ini menjadi sebuah bayangan abu-abu untuk setiap kalangan untuk kembali kepada rutinitas sedia kala.

Tak terkecuali Indonesia, pemerintah telah menetapkan bahwa COVID-19 ini menjadi Bencana Nasional yang telah mengubah alarm bangun tidur kita sehari-hari menjadi sebuah sirine untuk tidak keluar rumah kecuali dalam keadaan mendesak. Telah banyak kajian tentang bagaimana tindakan yang tepat agar realisasi pemutusan mata rantai ini terwujud, tentu kajian-kajian hebat dan formulasi yang bukan main epic nya ini mempertimbangkan banyak hal terutama di Bidang Politik, Ekonomi, Sosial, dan Budaya demi sebuah kepentingan publik.

Setelah memasuki hampir 2-3 bulan kasus pandemi ini merebak, membuat para pekerja harian, terutama Buruh menjadi korban kondisi dunia usaha. Tercatat sekitar dua juta orang pekerja pabrik ini terluka atas pukulan berat ulah main hakim sendiri ala pandemi coronavirus ini. Peringatan Hari Buruh ditahun ini diwarnai kesedihan akibat PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Berbagai perusahaan di sektor industri manapun seakan mengikuti trend yang tidak akan diharapkan oleh seorang Buruh, dilansir dari berbagai sumber dari kanal jejaring sosial, dampak PHK ini secara luas menghujam para buruh dibanyak wilayah yang ada di Indonesia, inilah yang menjadi momok berat akibat mandeg-nya proses produksi, dan juga menghindari mata rantai virus yang tak kunjung lenyap. Sebagian besar kluster korban PHK ini berasal dari perusahaan tekstil dan produk tekstil, sebanyak 80 persen Buruh diputus hubungan kerja nya tanpa insentif atau pesangon, diantara perusahaan tekstil dan produk tekstil tersebut, 70 persen nya diramalkan akan bangkrut akibat kerugian yang ditelan selama masa pandemi yang membuat kondisi usaha dan keadaan negara tak mampu menjaga ketahanan dengan baik sehungga membuat babak belur banyak orang.

Menurut penuturan Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, angka pekerja yang mengalami dampak ini sekitar 314.833 buruh di sektor informal yang terkena dampak, 1,4 juta buruh dirumahkan, dan 375 ribu buruh dirumahkan, ini menjadi angka yang cukup fantastis. Dilansir dari Tirto.id, masih ada sekitar 4 juta buruh yang terpaksa bertahan dengan menanggung nasib dikarenakan perusahaannya masih mampu mengurus izin kepada pemerintah untuk tetap melakukan kegiatan produksi di tengah masa pandemi, jumlah itu dikecualikan dari daerah yang memberlakukan PSBB di daerahnya. Diluar itu masih banyak pekerja yang belum terhitung walaupun sudah terikat kepada peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sebagian perusahaan hidup di wilayah administratif yang menerapkannya. Total ada 22 daerah yang telah menerapkan PSBB di Indonesia.

Hal yang dikhawatirkan telah terjadi, bisa kita bayangkan, seorang buruh yang seharusnya kuat memikul beban berat, ternyata juga manusia yang masih bisa terinfeksi virus ini, bisa kita lihat dengan kejadian pada Pabrik HM Sampoerna, dengan produk yang sungguh istimewa favorit para penikmat rokok, sebanyak 100 Pekerja nya menjalani tes swab. Tak hanya itu, pabrik AC Denso di Jawa Barat, pabrik Yamaha Music di Jakarta juga terpaksa ditutup dikarenakan imbas yang langsung membuat pekerjanya tertular dan sebagian telah terkonfirmasi positif COVID-19.

Menurut Organisasi Buruh Internasional (ILO), dikuartal kedua tahun 2020 ini, sebanyak 1,6 miliar para pekerja, apabila ditelisik lebih jauh, angka itu memangkas setengah dari angkatan kerja global. Hal ini membuat perekonomian global seakan menukik tajam. Apalagi di Indonesia, secara perusahaan yang harusnya bisa mengetahui bagaimana protokol kesehatan diberlakukan, hanya menjadi sebuah isapan jempol dibarengi dengan di wilayahnya diberlakukan PSBB pula, hal itu yang menjadikan beberapa perusahaan yang saya sebutkan diatas menerima akibatnya setelah sengaja menggagal pahamkan pikirannya yang seharusnya memberlakukan pembatasan jam kerja dan penanganan kesehatan yang tertata.

Ini adalah sebuah kejadian yang menurut Saya harus kita pikirkan, ada buruh yang meninggal karena terinfeksi COVID-19. Di peringatan tahun ini, para buruh memang tidak turun ke jalan untuk melakukan aksi massa yang biasanya menjadi sebuah peringatan rutin untuk setiap tahun guna menyuarakan hak-hak para buruh. Menyikapi hal itu, akhirnya para buruh memperingatinya dengan memanfaatkan sosial media untuk menyuarakan segala tuntutan dan melakukan kegiatan positif tidak terkecuali membagikan sembako kepada masyarakat yang kurang mampu di daerahnya. Hal itulah yang kemudian menjadi kegiatan hari peringatan yang sedikit mehibur ditengah kesedihan Para Buruh yang terancam tidak lagi bekerja, tidak menerima upah semestinya, tidak bisa berharap Tunjangan Hari Raya atau THR, dan ditakuti oleh momok PHK yang menjadi trend mengiringi arus kencang pandemi COVID-19 tahun ini.

Kejadian-kejadian pemutusan hubungan kerja patut kita soroti sebagai bahan kajian publik dan konsumsi ekonomi yang menjadi relung intelektual kita sebagai Mahasiswa Ilmu Administrasi Publik maupun Bisnis. Pemutusan hubungan kerja ini terjadi di perusahaan yang berada di wilayah-wilayah industri di Indonesia, dilansir dari data Kemnaker berdasarkan perhitungan dengan BP Jamsostek, masih ada sekitar 1,7 juta Buruh yang harus menelan pil pahit ditengah gawatnya badai PHK, akan menjadi sebuah kejadian terburuk bagi para pekerja apabila benar-benar mendapatkan surat tersebut. Seperti hal nya di Bandung, sekitar 3.396 Buruh telah mendapat PHK dari perusahaan mereka bekerja.

Dilansir dari kanal berita, salah satu Buruh yang terkena imbas dari PHK tersebut mengeluh akan penderitaannya, ia kesulitan untuk hidup, ia menuturkan bahwa banyak yang harus ia tutupi untuk memenuhi berbagai kebutuhan keluarganya, mulai dari harus membayar kontrakan, anaknya yang masih balita, serta memberi sesuap nasi untuk kebutuhan sehari-hari, ditambah lagi untuk sekedar memberi pengamen yang lewat depan rumahnya pun ia harus berpikir dua kali untuk memberinya atau tidak, hal inilah yang menjadi derita seorang korban PHK ditengah arus yang kini menjadi sebuah hal yang sering kita temui apabila membaca koran atau media massa, semuanya berfokus kepada berapa banyak buruh yang telah diputus hubungan kerja nya oleh perusahaan A, atau mungkin cerita dari para buruh yang telah berhutang kepada tetangga nya. Sungguh miris keadaan ini dilihat, apalagi momentum yang seharusnya menjadi titik awal kesejahteraan Buruh itu dimulai.

Menurut pandangan salah satu Pemimpin Aliansi Buruh di Indonesia, perusahaan harus benar-benar memperhatikan nasib para pekerja, ditambah tuntutannya kepada pemerintah agar mengeluarkan sebuah regulasi yang memutuskan agar perusahaan memberikan upah penuh dan menuntaskan perkara tunjangan hari raya (THR) yang setiap tahun menjadi penyakit tahunan, agar dibayarkan secara penuh walaupun Para Buruh tidak bekerja sesuai kemauan pemilik perusahaan. Ditambah lagi, banyak Buruh yang menyayangan atas rencana kebijakan RUU Cipta lapangan Kerja yang membuat Pekerja akan cilaka dan tidak mendapat haknya. Omnibus Law yang menuai banyak kritik ini diminta agar dihentikan pembahasannya. Karena, disinyalir akan menimbulkan kerugian bagi Para Pekerja. RUU Cilaka ini akan menghilangkan kepastian Jaminan Sosial, Jaminan Kesehatan, dan Jaminan Upah sehingga akan merontokkan definisi kesejahteraan seorang Buruh. Dan, perihal kartu pra-kerja yang masih menjadi sengketa dan dinding pemisah, apakah Pemerintah masih tega akan kondisi masyarakat yang kelaparan, atau justru membela formalitas nawacita lewat memberi pelatihan ?

Sedih rasanya, ketika mencoba mencari referensi apa arti sebuah Peringatan Hari Buruh ini untuk kesejahteraan Para Buruh di Indonesia, telah terlintas sebuah berita yang menerangkan bahwa ada 2000 pekerja di Tangerang telah di PHK. Ya, sedih. Memikirkan bagaimana mereka tidak seberuntung orang tua saya, bagaimana nasib anaknya ? Mungkinkah ada yang menjadi Mahasiswa seperti saya, salut untukmu kalian wahai para buruh yang setulus hati membangun negeri.      

1 Mei kali ini, Peringatan Hari Buruh juga bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan, maka tidak ada lagi harapan lain yang patut kita utarakan selain berdoa untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia, terutama para buruh, dan pekerja-pekerja harian ditengah pandemi COVID-19 ini agar terus diperhatikan. Semoga Allah memberkahi para buruh, memberikan kesehatan, kebahagiaan, ketenteraman, dan semakin sejahtera.

Hidup Mahasiswa! Hidup Buruh! Hidup Rakyat Indonesia!.

Wallahul Mufawiq ila Aqwamitthariq

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Oleh : Amiq Ikmal Shihabbuddin– Staf Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa Himaistra 2020 Kabinet Sabha Pramukti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2020 Selamat Datang | Audioman by Catch Themes