Tentang Kemanusiaan

Saat ini dunia tengah berusaha melawan virus COVID-19 yang muncul pada bulan Desember 2019. Coronavirus yang berevolusi itu saat ini ‘berhasil’ membuat hampir seluruh orang di dunia merasa khawatir dan ketakutan. Bukan tanpa sebab, melainkan COVID-19 ini memang sangat mudah penularannya. Bahkan, ada yang berspekulasi bahwa virus ini bisa menular melalui udara. Hal itu membuat sebagian besar negara di dunia menerapkan social distancing untuk mengurangi meluasnya COVID-19 ini.

Social Distancing sendiri merupakan salah satu langkah pencegahan dan pengendalian infeksi virus corona dengan menganjurkan orang-orang untuk membatasi kunjungan ke tempat ramai, dan kontak langsung dengan orang lain. Ketika menerapkan social distancing, seseorang tidak diperkenankan untuk berjabat tangan serta menjaga jarak setidaknya 1 meter saat berinteraksi dengan orang lain. Namun kini, istilah social distancing sudah diganti dengan physical distancing oleh pemerintah.

Dampak dari COVID-19 ini sangat besar. Hampir seluruh negara yang warganya terjangkit virus corona sektor perekonomiannya mengalamni penurunan, tak terkecuali Indonesia. Bank Indonesia (BI) sendiri telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi RI menjadi dibawah 5% atau hanya sekitar 2,5%  saja yang mulanya mampu tumbuh mencapai 5,02%.

Serangan virus Covid-19 ini memang sangat mengganggu sektor ekonomi, namun aspek kemanusiaan juga perlu didahulukan. Alasannya karena di saat situasi yang seperti ini kita  sebagai manusia lebih dituntut untuk benar-benar menjadi manusia. Contoh kecilnya saja, saat kita memiliki rezeki lebih, kita bisa menyumbangkannya kepada yang lebih membutuhkan, atau kepada mereka yang berani bertempur di barisan paling depan melawan COVID-19 ini.

Namun, yang paling mengiris hati saat pandemi ini berlangsung adalah masih ada sebagian orang yang rasa kemanusiaan dan peduli ke sesamanya sangat kurang. Himbauan pemerintah yang menyarankan agar masyarakat melakukan social distancing dirasa masih belum maksimal dikarenakan masih banyak masyarakat yang menolak untuk patuh dan peduli.

Sangat disayangkan ketika  masih banyak yang berkeliaran tanpa peduli penularan COVID-19,  para perawat dan dokter yang bertugas untuk ‘bertarung’ melawan COVID-19 harus terjaga hampir 24 jam karena pasien yang terjangkit semakin hari semakin bertambah. Tanpa kenal lelah, mereka terus berjuang agar pasien-pasien yang terjangkit bisa sehat kembali, dan bumi bisa tersenyum lagi.

Mirisnya, sebagian dokter atau perawat yang sedang berjuang tidak mendapatkan ‘penghargaan’ dari sebagian masyarakat yang lebih memilih untuk menjauhi mereka. Sebagian masyarakat lebih memilih untuk bermain ‘aman’, namun mereka lupa bahwa cara mereka untuk ‘aman’ terkadang menyalahi syarat untuk menjadi manusia itu sendiri.

Salah satu kasus yang terjadi belakangan ini dirasa sangat menyayat hati. Beberapa dokter, dan perawat di Jakarta Timur ditolak dan diusir dari kos mereka dengan alasan takut mereka menjadi penyebab wabah COVID-19 menyebar di daerah kos tersebut. Padahal, seharusnya kita sebagai masyarakat harus terus memberi dukungan kepada mereka yang bekerja setiap hari untuk melawan ‘musuh’ yang tak terlihat itu.

Namun nyatanya, sambutan hangat yang diharapkan dokter dan perawat dari masyarakat malah menjadi serangan batin dan mental bagi mereka. Seharusnya masyarakat tahu bahwa saat menangani pasien COVID-19, para dokter dan perawat telah memfasilitasi diri mereka dengan Alat Pelindung Diri (APD) sehingga mereka tidak tertular, tapi sebagian masyarakat malah enggan dan menolak untuk menunjukkan rasa kemanusiaan mereka.

Banyak pula berita yang beredar di masyarakat jika terjadi penolakan terhadap jenazah tenaga medis yang meninggal akibat terdampak virus COVID-19. Lebih parahnya, penolakan tersebut di provokatori oleh tokoh masyarakat sekitar. Akibatnya, jenazah harus dipindahkan ke pemakaman lain. Padahal, ketika jenazah COVID-19 dimakamkan, sudah ada prosedur tersendiri sehingga virus tidak akan menyebar.

Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) bahkan mengecam tindakan penduduk yang menolak pemakaman jenazah COVID-19.  Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Bolmong, Parman Ginano juga menyayangkan aksi penolakan yang dilakukan masyarakat di beberapa wilayah. Parman Ginano mengatakan bahwa penolakan bisa sangat menyakitkan bagi anggota keluarga jenazah COVID-19 tersebut. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, juga menyayangkan aksi tersebut. “Perawat tak pernah tolak pasien, lalu kenapa kita tega menolak jenazah mereka?” ucap Ganjar Pranowo.

Sangat memprihatinkan bahwa akibat sudah terlalu terbiasa menyimak data statistik rasional, masyarakat tidak mampu menyimak data statistik tentang perasaan dokter dan perawat yang sangat butuh dukungan dari lingkungan sekitar. Sebagian masyarakat juga lupa menyimak tentang perasaan keluarga dari jenazah pasien COVID-19 yang ditolak dari kampung halamannnya sendiri.

Seharusnya masyarakat Indonesia bisa meniru apa yang dilakukan beberapa orang di India yang ketika dokter pulang untuk beristirahat di rumah mereka, para tetangga dan orang-orang lainnya memberikan sambutan hangat bak menyambut seorang pahlawan yang pulang dari medan tempur.

Masyarakat juga harus melihat dan meneladani mereka yang mempunyai mahkota kemanusiaan sangat tinggi, misalnya saja banyak organisasi di masyarakat maupun di sekolah-sekolah dan universitas  yang melakukan kegiatan donasi untuk menampung sumbangan dari masyarakat sekitar dan ditujukan untuk masyarakat yang terdampak covid-19 ini baik dalam bentuk sembako,uang,ataupun peralatan medis seperti masker dan hand sanitizer. Contohnya saja di Desa Turi ,Kabupaten Magetan ada seorang relawan yang menyumbangkan  kain dan perlengkapan lain untuk dijadikan masker. Disana juga di dukung oleh para ibu rumah tangga yang rela membantu untuk membuat masker meskipun tidak dibayar, Hal ini mereka lakukan karena mereka ikhlas membantu tanpa pamrih dalam program pemerintah dan tentunya mereka juga diniatkan dengan jiwa kemanusiaan yang tinggi.

Sangat penting bagi kita untuk tetap mendukung mereka yang ada di garda terdepan melawan COVID-19 ini. Jangan sampai karena wabah ini, kita lupa cara memanusiakan manusia. Upaya untuk menanggulangi dan melawan COVID-19 perlu dilengkapi dengan rasa ikhlas dan tanggung jawab. Sebagai masyarakat kita harus mematuhi anjuran pemerintah untuk tetap di rumah saja, dan sebagai manusia kita wajib saling mendukung kepada sesama, bukan malah menuruti ego kita masing-masing. Karena pada hakikatnya, teknologi dan ilmu pengetahuan saja tak cukup bila tidak diiringi oleh kemanusiaan.

Apakah kita bisa disebut manusia kalau seorang pahlawan pun tidak kita perlakukan dengan baik? Apakah kita masih bisa disebut manusia, apabila rasa kemanusiaan itu sendiri perlahan luntur seiring dengan adanya wabah ini? Bagaimana bisa kita disebut manusia, jika kita lebih mengedepankan ego masing-masing daripada bisikan hati nurani kita sendiri?

Untuk itu kita sebagai masyarakat Indonesia perlu juga belajar dari masyarakat di Wuhan, China dalam perang melawan Covid-19 ini. Ketika virus ini menyerang, masyarakat Wuhan saling menguatkan dan patuh pada  instruksi pihak otoritas dengan mengatakan “Wuhan,jiayou” yang artinya  ” Wuhan, Semangat”.

Kini sudah waktunya bagi Indonesia untuk bersatu dan bersama melawan virus ini. Ini bukan waktunya saling salah-menyalahkan. Sudah saatnya kita mengatakan “Indonesia, Kita Bisa”. Ketika di hari-hari biasa kita disibukkan dengan segala kerumitan aktifitas dunia, izinkanlah sejenak hati nurani kita, akal kita, dan rasa kemanusiaan kita melakukan tugasnya. Sudah saatnya kita menjadi manusia!

Stay at home, Stay Safe dan stay healthy

Oleh : Dept. Pengabdian Masyarakat

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2020 Selamat Datang | Audioman by Catch Themes